Dikau
Hari ini
aku bertemu lagi
dengan dia lagi
sayur dia memanggil dirinya
maka jadilah aku jengkol dipanggilnya
riang gembira tawanya
memenuhi sukma para pemirsa yang lugu
bertanya sambil termangu
dan bertanya ada apakah itu?
Si sayur ia kupanggil
dan ia memanggilku jengkol
entah kenapa aku tak bertanya
entah kenapa aku jengkol
dalam perjalanan pulang kami bersama
bertiga dengan kawannya
ketika ia membelok kekanan memasuki gang entah kemana
akupun melesat kencang membelah malam
sambil bertanya
kenapa malam ini tiba-tiba sepi?
Sayur, sayurku, dimana kamu?
Masihkan kamu berjalan dijalan gelap itu?
Meraba dan melangkah tanpa tahu arah
jangan kau lakukan itu sayurku
kau menghancurkan hatiku.
Kalau
----------------
Kalau aku bisa melihat masa yang akan tiba
akan kuceritakan padamu
bagaimana matahari yang terbit esok hari menyapa tetumbuhan
bagaimana kicau burung-burung esok hari menyambut pagi yang sunyi,
yang memberi hidup kepada dunia
yang sebelumnya dingin tak berarti,
dibekukan malam yang sunyi,
yang membuat semua yang bersinar mati,
bukan oleh karena gelapnya,
tapi hanya oleh karena adanya.
Dan bila saat-saat esok yang akan tiba, membuat segala mimpi menjadi nyata.
Tapi bukan hanya mimpi-mimpi indah milik manusia yang punya cinta,
tetapi juga mimpi buruk para pujangga yang kehilangan cinta,
dan mereka yang tersesat dalam gelap malam dan tidur dalam kengerian,
karena tiada yang mencintai mereka.
Mimpi-mimpi buruk yang terus menggerus kewarasan,
dan kemudian menelan serbuk remahannya kedalam perut raksasa yang mengamuk karena lapar. Akankah kau menemaniku menjalani saat-saat itu?
Bersama menempuh mimpi dalam perahu yang belum lagi ada,
masih hanya berupa mimpi dan angan
yang timbul bersamaan dengan hembusan harum tubuhmu di sore itu,
dimana kenyataan hidup menjadi tak penting lagi untukku
dan impian-impian menjadi nanar tak terkendali
berlarian dalam pemikiran akan masa depan.
---------
Bila dulu aku tak mampu berkata-kata, hanya segenap hati dipenuhi rasa
yang meluber keluar melalui darahku, yang meluber keluar dari hatiku
berderai pecahnya ketika rasa itu dibuangnya,
bagaikan seonggok kain usang membusuk yang membeku
setelah semuanya terlihat berlalu, dan aku menemukan kembali diriku
diantara onggokan yang membiru, terbungkus dinginnya masa lalu
aku berjalan tak tentu arah, mencari lentera penerang dunia
tapi aku tahu dalam diriku, ada bagian dariku yang hilang
malam itu langkahku membawaku
ketempat dimana aku biasa berlabuh
menepikan tubuh ini untuk mendapat sedikit kemewahan
berupa pertemanan yang sudah lama terjalin
bagaikan sarang lala-laba yang sudah menguning tua
aku tak pernah berharap kecuali hanya untuk membuat nyaman sesama
para kawan yang sudah seperti saudara
sehidup semati seide dengan semua mimpi
yang dibawa dipanggul dan dilihat matinya
dan kemudian kau datang
atau mungkin kaulah yang telah datang terlebih dahulu
aku tak tahu, mungkin aku tak peduli
lalu aku pun diperkenalkan kepadamu
kukira dulu kau hanya gadis biasa
yang menjalani masa mudanya dengan gembira ria
tapi ketika kulihat matamu
kulihat apa yang tersembunyi dalam hatimu
kehancuran yang mana kau lari darinya
sayangnya saat itu aku bukanlah orang yang bersemangat mengorek masalah
karena aku hanya ingin berlabuh sementara, dan kemudian kembali mengarungi hari
aku hanyalah orang yang kecewa karena hidup tak sempurna,
dan yang memahami karena tak sempurna adalah hidup.
Dimana semua kehidupan membawa kematian sebagai masa depannya.
Tapi kemudian entah kenapa
dan bagaimana aku tak tahu
ada seberkas rasa yang menggoda
sebagaimana wangi tubuhmu yang mengembara
menelusuri lubang hidungku dan memenuhi dadaku
yang kemudian menyesakkan nafasku
ketika aroma tubuhmu tak lagi ada disisiku
walau kusadari kau adalah anomali dalam hidupku
yang adalah lain daripada yang lain
yang membawa akibat yang tak terperhitungkan
tapi mungkin disaat itulah aku tahu
mungkin kau yang aku mau
tanpa kusadar atau kutahu
aku sudah terbius oleh pesonamu
pertemuan-pertemuan kita selanjutnya adalah hal yang tak bisa ditunda
entah rinduku atau rindumu yang menyatukan kita
tapi kita merasa nyaman duduk bersama
dan bercerita tentang hidup kita
ketika kemudian apa yang kulihat dalam kelebat matamu waktu itu
kembali dengan beban yang lebih berat dan penuh derita
yang kemudian kembali, dan kembali lagi dengan tangisan dan airmata
sebuah langkah berat telah kau mulai
dan aku tak bisa membiarkanmu kembali
kedalam kubangan luka dan beban derita
saat saat bersamamu selalu terasa nyata
sementara kita tak bersama
rasa lembut yang menyebar merata keseluruh raga
yang mengharapkan cinta yang tulus murni abadi
saat saat kau ada di sisi adalah surga yang turun ke bumi
dimana harum dan indahnya tercium oleh hidung manusia
dan imajinya terbawa sampai ke otak kecil
yang kemudian menyempurnakan surga dunia
rasa aman nyaman dan dicinta
bukanlah hal mudah untuk dicerna
tapi denganmu disisiku
bahkan kutak perlu tahu bahwa aku jatuh cinta.
Dapatkah kamu mendengarku?
dapatkah kamu mendengar debur jantungku?
saat ini ketika aku menulis barisan kata-kata ini
jantungku berdebur berkejaran dengan ombak
yang meyapu samudera luas yang terisi dengan cinta
yang tak terlihat dimana ujungnya
atau kemana ia akan berakhir
sentuhlah dadaku
dan kau akan merasakannya
rasa nyaman yang membuat seluruh perang bubat tak ada artinya
yang membuat laju sang waktu seakan berhenti untuk selamanya
yang dapat membuat mimpi menjadi nyata
senyata kobaran api yang melahap Ibrahim ketika Tuhan mengujinya
apakah ia percaya akan kebesaranNya,
apakah ia percaya akan kekuasaanNya
senyata kebenaran akan kuasaNya.
Kau buat seluruh hariku bagaikan hanya sekejap mata
dan hanya pesonamu yang membayang menghantui indra
inginku menemuimu sekarang juga
hanya untuk berkata
bahwa aku jatuh cinta
Senin, 30 November 2009
Kamis, 26 November 2009
Selasa, 24 November 2009
ingat
kemana kau akan lari?
apakah kau kira jarak adalah abadi?
sampai kapan kau akan lari?
apakah kau kira waktu adalah abadi?
masih kurangkah peringatan yang diberikan padamu?
masih berapa banyak lagi kematian yang kau butuhkan?
agar kau bisa sadar.
bahawa kau tak pernah bisa lari.
apakah kau kira jarak adalah abadi?
sampai kapan kau akan lari?
apakah kau kira waktu adalah abadi?
masih kurangkah peringatan yang diberikan padamu?
masih berapa banyak lagi kematian yang kau butuhkan?
agar kau bisa sadar.
bahawa kau tak pernah bisa lari.
Selasa, 03 November 2009
aku
aku diam tak berkata
bukan berarti aku tak berdaya
aku diam tak bergerak
bukan berarti aku tak berdaya
bukan berarti aku tak berdaya
aku diam tak bergerak
bukan berarti aku tak berdaya
kaulah
gemintang tak lagi menghibur
malam sunyi tak bertepi
tanpamu surya tak berarti
kaulah cahaya hati
suryaningjati
malam sunyi tak bertepi
tanpamu surya tak berarti
kaulah cahaya hati
suryaningjati
Rabu, 16 September 2009
Termenung
Termenung
kumenunggu hadirnya kabarmu disini
menunggu bagaikan tak kenal waktu
apakah kau tak tahu?
kumenunggu hadirnya kabarmu disini
menunggu bagaikan tak kenal waktu
apakah kau tak tahu?
awal tahun
kadang kuingin waktu berhenti
tepat disaat detak jantungmu katakan cinta
kerena itulah masa terindah dari segala masa
saat penuh kasih juwita hati
kadang kuingin waktu berhenti
karena ku takut engkau akan pergi
bersama bayang sang waktu
atau hembusan sang bayu
kadang kuingin waktu berhenti
karena kutak ingin kau tiada disini
sebagaimana kumbang tanpa mawar
berkelana tanpa tujuan
kadang kuingin waktu berhenti
tepat disaat pagi
ketika kusibak harum tubuhmu
dan kupeluk hangat indahmu
kadang kuingin sang waktu berhenti
hanya sekedar dapat kupandangi
lekuk bibirmu yang indah
dan kuresapi tuk hilangkan gundah
kini kau telah pergi, hanya tinggalkan seberkas wangi
yang berpadu dengan pahitnya empedu
membelit paru menahankan nafas matikan sukmaku
tak tahu apakah kumampu bertahan dan bangkit kembali
tepat disaat detak jantungmu katakan cinta
kerena itulah masa terindah dari segala masa
saat penuh kasih juwita hati
kadang kuingin waktu berhenti
karena ku takut engkau akan pergi
bersama bayang sang waktu
atau hembusan sang bayu
kadang kuingin waktu berhenti
karena kutak ingin kau tiada disini
sebagaimana kumbang tanpa mawar
berkelana tanpa tujuan
kadang kuingin waktu berhenti
tepat disaat pagi
ketika kusibak harum tubuhmu
dan kupeluk hangat indahmu
kadang kuingin sang waktu berhenti
hanya sekedar dapat kupandangi
lekuk bibirmu yang indah
dan kuresapi tuk hilangkan gundah
kini kau telah pergi, hanya tinggalkan seberkas wangi
yang berpadu dengan pahitnya empedu
membelit paru menahankan nafas matikan sukmaku
tak tahu apakah kumampu bertahan dan bangkit kembali
Langgan:
Entri (Atom)
.jpg)